SEKILAS INFO
05-12-2021
  • 3 bulan yang lalu / Penerimaan siswa-siswi baru SMA Xaverius1 Palembang Jalur PMK akan di buka Tgl 1 September – 30 September 2021, ayo silahkan bergabung dan segera daftar secara online melalui situs resmi ppdb SMA Xaverius 1 : ppdb.smaxaverius1.sch.id
  • 3 bulan yang lalu / Penerimaan siswa-siswi baru SMA Xaverius1 Palembang Jalur PMK akan di buka Tgl 1 September – 30 September 2021, ayo silahkan bergabung dan segera daftar secara online melalui situs resmi ppdb SMA Xaverius 1 : ppdb.smaxaverius1.sch.id, atau bisa melalui klik link di menu  Portal SMA Xaverius 1 website ini.
10
Jul 2021

In evolutionary theory, adaptation is the biological mechanism by which organisms adjust to new environments or to changes in their current environment. Although scientists discussed adaptation prior to the 1800s, it was not until then that Charles Darwin and Alfred Russel Wallace developed the theory of natural selection.

Organisms can adapt to an environment in different ways.

 (diunggah di https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/adaptation/ diunduh pada tanggal 23 Oktober 2020 pukul 10.15 WIB)

 

Sebagai seorang guru Biologi, memahami cuplikan artikel di atas sangat relevan dengan apa yang penulis alami sebagai seorang pendidik saat pertama kali berkarya di tahun 1998 sampai dengan saat ini tahun 2021. Dalam teori evolusi, adaptasi adalah mekanisme biologi dimana organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan baru atau perubahan lingkungan mereka saat ini. Meskipun para tokoh evolusi membahas tentang adaptasi sebelum tahun 1800-an, tetapi mereka sudah mengembangkan toeri seleksi alam. Begitupun dengan seorang pendidik, adaptasi terutama terhadap pergantian Kurikulum sangat diperlukan. Pendidik harus cepat tanggap terhadap banyak perubahan dan kemajuan di dunia pendidikan.

Sebagai pelajar, penulis mengalami Kurikulum 1984 yang mengusung pendekatan proses keahlian. Posisi peserta didik ditempatkan sebagai subyek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Belajar Aktif (CBSA). Tapi sebagai pelajar, kami dulu sering menyebut CBSA sebagai Catat Buku Sampai hAbis (maaf) karena transfer ilmu kebanyakan dilakukan hanya dengan menyalin ulang apa yang ada di buku.

Selain Kurikulum 1984, sebagai pelajarpun saat SMA penulis mengalami Kurikulum 1994 yang menurut penulis sebagai pelajar saat itu memiliki beban belajar yang sangat berat dan padat. Ketika pertama kali berkaryapun, Kurikulum ini yang diterapkan.

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. (diunggah di https://www.silabus.web.id/kurikulum-1994-menggunakan-pendekatan/ diunduh tanggal 23 Oktober 2020 pukul 12.30 WIB)

Di tahun 2004, sebagai pengganti  Kurikulum 1994 adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang berbasis kompetensi. KBK memiliki ciri-ciri menekankan ketercapaian kompetensi peserta didik baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman. Sebagai pendidik, saya mengalami pelatihan mengenai berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang bervariasi.

Selanjutnya di tahun 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Sebagai pendidik, kami dituntut untuk mampu mengembangkan sendiri atau bersama dalam kelompok MGMP  silabus dan penilaian sesuai dengan kondisi sekolah sebagai satuan pendidikan.

Dan saat ini yang diterapkan adalah Kurikulum 2013 yang memiliki 3 aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku. Yang perlu dipedomani sebagai seorang pendidik adalah bagaimana kita menilai tanpa menghakimi. Sampai dengan saat inipun saya pribadi masih terus belajar dan beradaptasi dengan kurikulum ini. 4 Perubahan besar dalam Kurikulum 2013, yaitu: 1. Konsep kurikulum: Seimbang antara hardskill dan softskill, dimulai dari Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian; 2. Buku yang dipakai : – berbasis kegiatan (activity base) – Untuk SD ditulis secara terpadu (tematik terpadu); 3. Proses Pembelajaran; dan  4. Proses Penilaian (diunggah https://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/Paparan/Paparan%20Wamendik.pdf diunduh pada tanggal 23 Oktober 2020 pukul 12:55 WIB).

Membaca banyak perubahan kurikulum itu saja membuat pusing, apalagi sebagai seorang pendidik yang disibukan dengan tuntuan administrasi yang begitu banyak. Kadang memang harus merelakan banyak waktu. Tetapi sejatinya memang belajar itu sepanjang hayat, bagaimana kita harus beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada. Tetap berpikir positif saja bahwa perubahan yang dilakukan intinya adalah untuk perbaikan di bidang pendidikan. Sebagai pribadi tetap berusaha untuk menjalankan “tuntutan” administrasi yang harus dibuat sebagai seorang pendidik, karena menjadi pendidik adalah pilihan. Bagaimana seorang pendidik dapat menuntut lebih ke peserta didik kalau dirinya sendiri tidak mau melakukan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggungjawabnya.

 

“Seorang guru yang terbaik akan mendidik dan mengajar dari hati, bukan hanya dari buku. Dari sikap seorang gurulah, murid akan belajar”

penulis : Anna Surachmie